Selasa, 02 Oktober 2012

The Autumn






You're like this beautiful autumn.
Unreal, yet intriguing.
- Posted using BlogPress from my iPad

Senin, 24 September 2012

The Anniversary





Ada sebuah kalimat yang pernah saya baca, entah dimana. Katanya, jika kita ingin tahu siapa diri kita sesungguhnya .. Maka lihatlah karib kita.
Mungkin ini ada benarnya, karena manusia bisa diukur oleh siapa yang mereka pilih untuk ada dalam hidup mereka.

Dulu saya getir. Entah mulai kapan, saya juga tidak tahu.
Lalu disitulah saya, mencari manusia lain yang hidupnya sama getirnya dengan saya. Yang melihat dunia dengan kacamata yang sama, yang berpikir dengan sama skeptiknya, yang sama pahitnya.

Mungkin saya hanya tidak mau merasa sendiri dalam ketidakpuasan saya dalam hidup, mungkin juga saya mencari teman senasib-sepenanggungan supaya saya punya justifikasi atas pilihan-pilihan yang saya buat.
Atau mungkin saya hanya merasa berbeda, karena tidak pernah mampu melihat dunia dari sisi yang merah jambu.

I once was satisified with everything. Dengan setiap orang yang saya pilih, dengan pemikiran saya yang luar biasa apatisnya.
Satu persatu bata saya susun menjadi tembok kokoh berwarna abu-abu.
Ini saya, menentang dunia.
Ini saya, menghujat segala sesuatu yang berbau dongeng dan bahagia.

Tapi tahukah kalian bahwa apa yang nyaman itu kadang menyesatkan?
Saya begitu terkungkung dengan dunia yang saya ciptakan sampai saya merasa bahwa saya nyaman dengan keadaan seperti itu.
Keadaan dimana saya merasa saya tidak butuh bahagia.
Bahwa saya tidak pantas untuk bahagia.
Keadaan dimana saya merasa bahwa saya harus terus menerus menjadi lebih baik, lebih cantik, lebih sukses, dan lebih pintar hanya karena saya tidak mau dihina oleh dunia.

I was so bittered 'Til I forget that rainbow does exist.
I was so dark up to the moment I met her.

Mungkin banyak yang bertanya mengapa saya jatuh cinta pada dia.
It wasnt love at the first sight, definitely.
But i was in awe, the first time i knew her.
I was in awe because i didnt have any clue on how she keeps her faith eventhough she has every legit reason to be mad at the world.
I dont know why she isn't bittered, why she can still see the good in people when she has been betrayed in such a messy way.
Dan dengan orang seperti itu, how can you not fall?

Its been a year since we are together,
And what is amazing is .. Every single day, she taught me something new.
She shows me the beauty of the world, the goodness in people. And moreover, to see the good in me .. No matter how many times i failed.

I think, that is the greatest gift one can give u :)


- Posted using BlogPress from my iPad

Senin, 20 Agustus 2012

The Love(s)

The Second Time You Fall In Love With Someone 
Aug. 16, 2011 By Ryan O'Connell 

The second time you fall in love with someone, you’re going to feel so relieved. When you get your heart broken for the first time, you can’t imagine loving someone else again or having someone else love you. You worry about your ex finding love before you do, you worry about being damaged goods. And then it happens. Someone else loves you and you can sleep well at night.

The second time you fall in love with someone, it’s going to feel different. The first time felt like a dream almost. You were untouched, untainted by anyone. You accepted love with wide open arms and desperation. “Love me, love me, love me!” So you did. And then it fell apart and left you shocked to the core. You realized that people could be cruel and break your heart. You realized that people could stop meaning the sweet things they said to you just yesterday. So when you go into it again, you’re going to keep in mind everything that you’ve learned. You’re going to say, “Love me, love me, love me…until you don’t. In which case, I would like some advance warning. Thanks!” 

The second time you fall in love with someone, you’re going to compare it to your first love. That’s okay. That’s natural. You’re going to be studying the new love with judgement and wariness. “My ex never liked broccoli. Why the hell does this one eat so much broccoli?!” Discovering that you have the ability to love multiple people who are different and feel different is initially very jarring. Loving an unfamiliar body will leave you disoriented and in dire need of a map. That’s okay too. That’s to be expected. Just ask the new love for directions. 

The second time you fall in love with someone, you’re going to suffer from a bout of amnesia. You’re going to poke and prod at your lover’s body and be like, “Wait, how do I do this again? How do I love you? I think it starts with us having a moment together in some coffee shop, right?” It’s going to feel scary at first. Falling in love is sort of like riding a bike though. You never really forget. 

The second time you fall in love with someone, you’ll be a more sane person. Your first love is when you get all of your insanity out. You behave like an insane monster because your mind is freaking out about all these new powerful feelings. By the second time, however, you have an idea of what works and what doesn’t. It’s by no means perfect. The insanity will make a cameo at some point. “Peek a boo. I’m here! Hope you didn’t forget about me!” But you can usually shoo it away after awhile. 

The second time you fall in love with someone, you will hopefully have better sex. Do not quote me on this. The second time you fall in love with someone will still be exciting and you might even talk about moving in together or marriage. It will feel more “adult.” You have no idea what adult love actually is but you think it involves making coffee for each other in the morning and maybe even getting a dog. “This is my dog, Xan. I got him with the second person I fell in love with because that’s what you do! The first person I was in love with would’ve killed a dog.” 

The second time will not be the first time. The first time is an insane magical life gift that you can never reclaim. But that’s okay. The second time is more real anyway. The second time can involve some amazing love.

----

People has been asking me to write, Honestly, I am inspiration-less. But then I stumbled into that article, and somehow it speaks what's on my mind. Loud and clear.

I believe that every kind of loves that touches my life shapes me into the way I am today.
I learned from everyone that has been a dearest to me.
 learned from every kind of love that has touched my life.
It builds me, It strengthened me, It molds me, It creates and transform me.
And until this very second, i still believe that I'm still on that path. The evolution path. The path that I hope will lead me to a better me.

So, there is no regret.
I never regretted every single thing that I've been through.
Because without all those lessons, without all the scars and the painful events.. I'll be the same old me who lives in a pink bubble.
And without all the love that been given to me endlessly by some of angels, I wouldn't know how to love back.


- Posted using BlogPress from my iPad

Rabu, 11 Juli 2012

The Beauty






Sudah beberapa hari ini saya tidak mandi. Tepatnya ini hari kelima.
Dengan korset lengan yang menjadikan sauna seperti tempat yang terasa nikmat, saya masih berperang dengan tumpukan pekerjaan, bahkan masih menyempatkan diri pergi menonton hitung cepat di tempat pemungutan suara sebelah rumah saya kemarin.

Jadi jangan tanyakan soal mood saya, sudah pasti berantakan. Apalagi bertanya soal penampilan saya, sudah pasti tidak memenuhi standard.
Separuh keluarga saya menyebut saya nekat, separuh lagi menyebut saya artifisial. Bagaimana tidak? Operasi bukan barang umum, apalagi cosmetic surgery, lebih langka lagi di keluarga kami.
Kenapa saya melakukan ini, mungkin sulit dipercaya. Apalagi kalau alasannya sesimple apa yang saya utarakan, "i just want to be more beautiful".
Pacar saya berkoar-koar panjang lebar, katanya saya sudah cukup cantik, sudah menggairahkan. Tidak perlulah pisau bedah merajah tubuh saya. Tapi bukan saya, kalau tidak memberontak.

Ibu saya bolak-balik marah-marah, katanya olahraga saja juga bisa. Tapi ini jaman instan, kalau bakmi saja bisa instan, kenapa membuang lemak tidak bisa instan?

Jadi inilah kondisi saya sekarang,
Sakitnya sih tidak seberapa, meski saya sama sekali tidak menyarankan untuk para si cengeng. Tapi repotnya itu yang kenapa-napa. Apalagi untuk si maniak mandi dan keramas seperti saya.
Menyesal? Hm, tidak juga. Mau lagi? Enggak juga :p

Cuma berharap sabtu cepat datang, dan korset sialan ini cepat dibuka.
Cuma kangen setengah mati sama air, dan kangen bercinta dengan bebas.
Until then, jangan harap mood saya bagus, atau pakaian saya bisa enak dipandang.


- Posted using BlogPress from my iPad

Rabu, 04 Juli 2012

The Ending





"Some things don't last forever, but some things do. Like a good song, or a good book, or a good memory you can take out and unfold in your darkest times, pressing down on the corners and peering in close, hoping you still recognize the person you see there.”
― Sarah Dessen, This Lullaby


Karena saya tahu hari ini akan ada.
Jadi disini saya ada, mengantarkan kamu menuju apa yang memang selayaknya kamu dapatkan.
Terima kasih,
Untuk segala sesuatu yang bahkan tidak cukup untuk dijabarkan dengan segala aksara.


- Posted using BlogPress from my iPad

Rabu, 27 Juni 2012

The Choices






"And once the storm is over, you won't remember how you made it through, how you managed to survive. You wont even be sure, in fact, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won't be the same person who walked in."
You know what, yes.. I'm angry.
Because you turned me into a person that i wish i'd never be.
I hope its worth it.

- Posted using BlogPress from my iPad

Minggu, 24 Juni 2012

The Impermanence





Saya sering berkata bahwa pelajaran yang saya beli dengan harga paling mahal itu adalah pelajaran tentang kemelekatan.
Salah satu doktrin yang mendasar dari ajaran Budha adalah anicca, atau impermanence. Segala hal di dunia ini selalu berubah, tidak ada yang permanen dan konstan. Dan apa yang menyebabkan manusia menderita adalah karena kita selalu melekat, dan tidak mau menyadari bahwa segala sesuatu pasti berubah. Segala sesuatu, baik itu kehidupan, jodoh, hal-hal materiil dan imateriil tak pernah kekal.

Oleh sebab itu saya selalu menekankan kepada diri saya untuk belajar tidak melekat. Kepada apapun, dan mudah-mudahan kepada siapapun. Dan yang tersulit tentunya adalah belajar untuk mencintai dengan pemahaman bahwa setiap orang yang kamu cintai bisa pergi kapan saja. Bahwa setiap orang yang ada di dunia kamu saat ini bisa saja tidak lagi bersinggungan dengan harimu besok.

Sometimes i wonder, how can you love someone wholeheartedly if there is no guarantee that the person will be there for you at least for a very long time?
How can you build a plan with them knowing that the person might not stay long enough for the plan to come true?

Mungkin pemahaman seperti itulah yang membuat saya skeptic dalam memandang segalanya. I no longer believe in fairy tale and they live forever ever after. Saya lebih percaya apa yang dinamakan "kekinian". Saat ini. Now.
Mungkin dengan memandang segala sesuatu dari sisi kekinian, saya lebih bisa berdamai dengan semuanya jika suatu saat nanti things are not going according to my plan.

Di sisi lain, mungkin triknya adalah menemukan orang yang cukup pantas untuk diresikokan. I know there is no guarantee when it comes to relationship, but i believe that we can minimize the risk and not bet againsts the world. Karena kalau ada yang saya pelajari, its the house who wins most of the times.



- Posted using BlogPress from my iPad



- Posted using BlogPress from my iPad

Minggu, 03 Juni 2012

The Crystal Ball





Katanya kebahagiaan itu serupa bola kristal, yang hancur berserakan karena terlempar jatuh dari surga.
Dan kita para manusia, berlomba memunguti serpih yang terserak.
Berusaha melengkapi setiap bolong yang tertera di dada.



- Posted using BlogPress from my iPad

Kamis, 31 Mei 2012

The Prayer






Saya bukan rindu menulis.
Saya rindu berdoa.
Jadi ini yang saya lakukan disini,
Berdoa.


Rabu, 30 Mei 2012

The (She)cret






I wonder which is preferable, to walk around all your life swollen up with your own secrets until you burst from the pressure of them, or to have them sucked out of you, every paragraph, every sentence, every word of them, so at the end you’re depleted of all that was once as precious to you as hoarded gold, as close to you as your skin - everything that was of the deepest importance to you, everything that made you cringe and wish to conceal, everything that belonged to you alone - and must spend the rest of your days like an empty sack flapping in the wind, an empty sack branded with a bright fluorescent label so that everyone will know what sort of secrets used to be inside you?

(What it is that we're looking for?)


- Posted using BlogPress from my iPad

Selasa, 29 Mei 2012

The Tears





Sometimes I can't help but wonder if your tears taste like rains.




- Posted using BlogPress from my iPad

The Falling Star






You can't catch a falling star,
More over put in a jar.
What you can do is just cherish,
Hoping that it burns while fullfilling your wish.

- Posted using BlogPress from my iPad

Senin, 14 Mei 2012

The Exception





Kalau ada yang berubah dari saya these last couple of years, it is probably my ability to trust. I have come to a point when it was so hard to have a little faith. Jangankan kisah cinta ala dongeng-dongeng dimana kata penutupnya berupa "dan mereka hidup bahagia selamanya", the thoughts of planning the future aja scared me to death. Its like that whenever im happy, i have this thought on the back of my mind that the happiness wont last that long. That every good story will come to an end, a bad one.

On one hand, i deserved to act like a lunatic when it comes to love relationship. Bagamana tidak? Wanita yang saya cintai setengah mati, wanita yang terus menerus berkata bahwa saya adalah orang yang tepat untuk dia, wanita yang menatap mata saya dan berkata bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan saya .. Membuang saya begitu saja.
Dia melepaskan saya tepat pada saat saya hanya memiliki dia. Dia berpaling saat saya tidak punya lagi jala pengaman yang cukup kuat menopang hidup saya.
Jadi salahkah kalau setelahnya saya begitu pahit memandang cinta?
Salahkah kalau setelah itu saya bersumpah bahwa saya tidak akan menjadi si lemah yang mengemis cinta?
I grew skeptic, and it makes work very hard to improve myself. So nobody will belittled me anymore.

But then out of nowhere, i met her. Im not looking for her, nor interested in finding a new love. Saat itu entah bagaimana, saya sudah mulai bisa berdamai dengan kekosongan hidup saya. Saya sudah mulai bisa mengabaikan apa yang tidak lengkap dan memfokuskan diri dengan hal-hal kecil yang masih tersisa sepeninggal kekasih saya. Tidak mudah, cuma entah bagaimana ... Saya mulai bisa.

Me and her, it wasnt an instant connection.
She wasn't my type, and i know i wasn't hers. But probably what attracts me to her is the fact that she doesn't look interested in knowing me more. I like challenge, i always have.
So i chase her.. And it wasn't easy since she hasn't moved on at that time. But something grows, dan not long after that .. We become a couple.

Are we a perfect couple? No we're not. But we are a happy couple.
Saya mungkin tidak akan pernah menjadi tipe wanita yang dia impikan sejak dulu seperti dia mungkin tidak pernah seratus persen cocok dengan kriteria saya, tapi kami jatuh cinta. Kami jatuh cinta dengan cinta yang bertumbuh semakin dalam setiap harinya, cinta yang tiba di satu titik dimana kami tidak perduli lagi dengan tipe dan kriteria.

She was amazing. Not because she is super cute or super nice or super smart. She was amazing karena bersama dia, saya belajar untuk percaya.
She was amazing because she has a good forgiving heart which never ceases to amaze me.

And for me, she's an exception. The reason i've woken up with a determination to be a better person because she deserves a better me.
She is not my everything, but she is the glue that hold my everything in their right place.

And for her, i'm willing to grow a faith. A faith to trust that even if someday we're not meant to be together, it is still a tale worth enough to be fought for.


Love,




- Posted using BlogPress from my iPad

Sabtu, 12 Mei 2012

The Promise







I might not look serious when i said it,
But I want you to know, that when i said i want you to marry me .. I really wish for it to happen. Just make it happen. Will you?




- Posted using BlogPress from my iPad

The Happiness






It's been years since I've been this happy. Bahkan pernah ada satu masa dimana saya berpikir bahwa saya tidak akan pernah bahagia lagi selamanya.
Masa-masa terburuk dalam hidup saya, yang bahkan tidak pernah saya sangka akan mampu saya lalui dengan jiwa yang tetap sehat.
Tapi ternyata benar apa kata orang-orang. Dunia tak pernah berhenti berputar, dan patah hati itu bukan akhir dari segalanya. Waktu itu punya sejuta akal, yang mungkin tidak dapat menyembuhkan dengan sempurna pun selalu saja punya cara untuk membuat kita menerima.
Entah bagaimana caranya, suatu hari kita akan tertegun dan menyadari bahwa kita masih hidup. Dan setiap luka? Tidak lagi berdarah-darah.
Satu hal yang bisa saya katakan adalah saya tidak pernah menyesali masa lalu saya. Setiap luka yang saya dapatkan akibat eboohan di masa lalu, menumbuhkan saya menjadi wanita yang lebih kuat. Apa yang saya jalani membuat saya dewasa. Pelajaran yang saya beli memang berharga mahal, tapi saya bersyukur bahwa saya diberi kekuatan untuk menyelesaikan semuanya.
Mungkin banyak yang berpikir bahwa saya tidak mencintai kekasih saya dengan kadar yang sama besar seperti yang lalu. Mereka berpikir hanya karena saya tidak lagi banyak menulis, itu berarti saya tidak memuja kekasih saya. Tapi sesungguhnya tidak tepat. Karena meskipun tidak ada dua cinta yang serupa, saya bisa dengan pasti menyatakan .. Bahwa saya mencintai kekasih saya dengan sungguh-sungguh. Dan tidak ada satu orang-pun yang saya inginkan selain dia.
Apa yang saya rasakan saat ini tentunya sudah jauh berbeda dengan apa yang saya rasakan dalam hubungan saya yang lalu-lalu.
Tapi bagaimana munkin sama? Manusia berubah, waktu dan keadaan pun tidak konstan. Dan cinta? Dia beradaptasi seiring perubahan.
Saat ini, cinta yang saya punya tidak lagi meledak-ledak seperti dulu. Prioritas dan mimpi saya berevolusi seiring dengan usia saya yang bertambah. Dan saya yang sekarang, bukan lagi saya yang dulu.
Saat ini, cinta yang saya bangun mungkin adalah perwujudan dari cinta yang lebih dewasa. Hubungan saya lebih teduh, lebih tenang dan tidak beriak. Drama percintaan saya jauh dari cerita ala-ala sinetron-sinetron. Dan saya bukan lagi si selingkuhan yang setiap malam menangisi takdir.
Dan mungkin kalian tidak tahu, bahwa setiap hari saya tidak pernah berhenti bersyukur bahwa saya diizinnkan mencicipi sebuah hubungan yang sehat. Yang didasari oleh sesuatu yang lebih sakral, dan dimulai dengan cara yang benar.
Dulu saya meminjam kebahagiaan orang lain. Dan saya membayarnya dengan bunga berlipat kali ganda.
Dan disini saya sekarang, dengan kekasih saya yang tidak perlu menyembunyikan saya di sudut-sudut malam. Cinta yang saya bangun mungkin memang cuma cinta yang sederhana. Kamipun tidak punya banyak hal fantastis yang bisa kami sombongkan. Tapi sungguh itu cukup. Cukuplah bahagia diukir dengan senda gurau kekasih saya dengan orang-orang terdekat dalam hidup saya. Cukuplah sempurna dinilai dengan waktu curi-curi yang kami habiskan dengan melakukan hal-hal sederhana.
Cukuplah dia menyayangi putri saya, dan putri saya tidak asing dengan dia.
Sungguh cukuplah dengan itu.
Love,

- Posted using BlogPress from my iPad

Jumat, 28 Oktober 2011

The Flames




Would you face the flames for me?
What if you knew you might not make it?
Will you still do it me?

Jumat, 21 Oktober 2011

The Wish



You know why I became a strong woman?
Because being weak was never a choice.
Because people failed you, and I learn that the only person you can depend on is yourself.

Jumat, 07 Oktober 2011

The Colour Of Love


Sepanjang hampir tiga puluh tahun hidup saya, saya hanya pernah jatuh cinta tiga kali.
Cinta yang mengubah hidup saya, yang membentuk dan mendewasakan saya.
Cinta yang membuat saya menjadi siapa saya saat ini, dengan segala kelemahan dan kelebihan yang saya punya.

Wanita pertama yang saya cintai mengajarkan saya menjadi wanita yang lebih baik. Dia mengajarkan saya tentang pentingnya sebuah integritas, menjadi wanita dengan nilai-nilai terhormat.
Dia seorang Leo sejati, dengan pemikiran yang luar biasa matang. Cinta pertama saya, yang saya cintai dengan cinta yang mungkin serupa warna putih.
Saya sering berkata, dan itu sebuah kebenaran .. Bahwa tanpa dia, mungkin saya tidak akan pernah menjadi wanita seperti ini.

Wanita kedua yang saya cintai mengajarkan saya tentang cinta yang berbagi. Cinta yang bersanding sempurna dengan luka, yang mengguncangkan batas antara benar dan salah, yang mengaburkan ilusi dan kenyataan.
Cinta yang kami punya serupa warna merah darah, cinta yang penuh kegilaan, persetubuhan yang tak pernah usai, pesta pora dan kemabukan.
Bersama dia saya tumbuh menjadi seseorang yang tak kenal lelah. Berusaha meruntuhkan satu demi satu tembok, menghajar setiap rintangan sampai hati babak belur tidak karuan.
Tidak pernah ada kata biasa jika bicara tentang dia. Karena dia tidak pernah abu-abu. Dia bisa mencintai dan menyakiti kamu dengan cara yang sama pintarnya. Membuatmu merasa berharga dan tidak berharga pada saat yang bersamaan. Seperti orgasme yang tak pernah usai, cintanya menjadi candu.

Wanita yang saya cintai saat ini adalah wanita sederhana yang menyentuh saya dengan caranya yang luar biasa. Saya bahkan tidak punya cukup kata untuk menggambarkan dia. Dia begitu unik sekaligus membumi.
Mungkin Tuhan menciptakan dia seperti nila, gabungan dari begitu banyak spektrum warna.

Kadang ada sisi biru yang keluar, sisi yang membuat saya ingin memeluk setiap lukanya. Kadang jingga yang hadir, indah.. Seperti senja. Tapi lebih sering kuning yang dominan. Seperti bunga matahari di ladang, berdiri menantang matahari.

Saya mungkin tidak mencintai dia dengan cara yang sama seperti saya mencintai dua wanita saya yang lain. Karena banyak hal sudah berbeda, dan saya bukan lagi wanita naif yang punya cinta bewarna putih atau si gila yang haus oleh gairah.

Mungkin cinta saya tidak lagi membadai dan meledak-ledak serupa dinamit, tapi ada rintik gerimis yang tak pernah berhenti turun untuk dia.
Dan setiap pagi, saya mendapati bahwa saya jatuh cinta lebih dalam lagi pada dia.
Saya mencintai dia dengan cinta yang lebih sederhana, dan moga-moga lebih dewasa.

Saya bersyukur untuk kekasih pertama saya, tanpa dia saya tidak akan pernah tahu nilai-nilai yang membuat saya menjadi lebih baik. Ataupun untuk dia yang kedua, yang mengajarkan saya untuk tidak mengkhianati diri saya.
Dan yang pasti tanpa mereka, saya tidak akan pernah bisa menghargai wanita yang bersama saya saat ini.
Untuk itu, saya harus berterima kasih pada luka yang mendewasakan hidup saya.

My beautiful something,


Dearest Sweets,

Ini tulisan pertama saya untuk kamu disini. Satu dari banyak tulisan lain yang saya harap bisa membuat kamu tahu, bahwa kamu adalah salah satu bagian yang terpenting dari hidup saya saat ini.

Saya tidak pernah punya rencana untuk jatuh cinta pada kamu, apalagi untuk mengikat sebuah janji untuk mengganti kata kamu dan saya menjadi kita. Mungkin Tuhan sudah lelah melihat saya bersedih, atau Tuhan mau kamu lebih bahagia .. Entah apa alasannya, tapi ada kamu disini saat ini bersama saya.
Dan sungguh, tak pernah ada satu haripun yang lewat tanpa mensyukuri keberadaan kamu.

Apa yang di depan, kita sama-sama tidak tahu. Karena seperti saya, kamupun tidak suka berjanji. Yang bisa kita katakan hanya kita akan mencoba, memberi yang terbaik dan menjadi yang terbaik. Yang bisa kita katakan hanya kita akan mencoba, untuk setia pada apa yang kita yakini sampai tiba saatnya nanti semua ingin menjadi nyata.
Dan sungguh, itu cukup untuk saya saat ini.

Tapi apa yang lalu kita tahu. Nama-nama yang hadir sebelum kita, luka yang entah kapan bisa sembuh sempurna, cinta yang juga tak lagi berwarna putih. Tapi sungguh tak mengapa, karena setiap masa lalu mendewasakan kita. Dan setiap badai seharusnya menjadikan kita lebih kuat. Dan sungguh, tanpa disakiti saya takkan pernah belajar untuk tidak menyakiti. Dan tanpa dikhianati kamu takkan pernah belajar untuk setia pada hati.

Dan yang pasti kita sama-sama mengerti, bahwa apa yang kita pilih ini tidak mudah. Setiap langkahnya mungkin penuh duri, dan di depan sana belum tentu ada matahari.
Mungkin kita akan sampai, mungkin juga tidak. Saya tidak tahu.
Tapi yang pasti saya mau kamu tahu, bahwa apapun yang terjadi nanti di masa depan .. Adalah sebuah kebahagiaan, menaruh hati kamu di dada saya.

Saya cinta kamu.

Kamis, 06 Oktober 2011

The Insecurities



Kalian tahu apa yang paling saya benci pada saat saya sedang jatuh cinta? perasaan ingin dicintai. Perasaan tidak cukup percaya diri yang kadang tidak pernah jemu menerbitkan tanya di pikir. Secara kasat mata memang tidak masuk akal. Apalagi untuk orang-orang yang tidak begitu mengenal saya. Bagaimana mungkin seorang Belle bisa menjadi tidak percaya diri? bukankah lakunya selalu sempurna, bukankah senyum tak kenal lelah selalu berhasil disunggingkan dengan pantas? Bukankah dia selalu kuat, tanpa pernah menunjukkan kelemahan?

Sebenarnya memang tidak mudah buat saya untuk menampilkan lapisan terdalam dari diri saya. Lebih mudah untuk mengenakan topeng dan mengabur bersama sekitar. Lebih mudah berlatih untuk menahan emosi, menampilkan laku tidak tercela dan tata krama yang sempurna. Lebih mudah berpura-pura tidak terluka, dibandingkan harus menjelaskan kenapa air mata harus turun. Lebih mudah menggigit lidah agar tak ada kata yang keluar, dibanding harus bercerita tentang luka di dada.

Mungkin itu sebabnya saya melatih diri saya dengan lebih keras. Membunuh rasa membutuhkan, membunuh rasa ingin dimengerti. Itu sebabnya saya berusaha untuk menjadi lebih kuat, mengabaikan setiap rasa yang menusuk, mengabaikan ego yang terkadang keluar tak terkendali. Mungkin itu sebabnya saya berusaha untuk menempatkan orang lain diatas kepentingan saya, karena dengan begitu saya tidak akan merasa terluka, jika saya mendapati bahwa saya tidak cukup penting untuk mereka.

Karena tahukah kalian bahwa cinta itu begitu memabukkan? dia menempatkanmu dalam neraka keinginan yang tidak akan pernah ada cukupnya. Cinta seperti heroin yang terus menerus akan kamu butuhkan dengan dosis yang semakin lama semakin besar. Dan sayangnya, tidak akan pernah ada jaminan bahwa akan ada orang yang akan mencintaimu dengan lebih setiap harinya.

Dan yang paling menyakitkan mungkin adalah pada saat nanti dimana kamu serasa tersadar dari mimpi dan mendapati, bahwa seberapa kerasnya pun kamu berusaha untuk mencintai orang lain, mereka tidak akan pernah bisa mencintamu sebesar yang kamu layak dapatkan. Dan seringkali saat masa itu tiba, kamu sudah mencintai sebegitu dalamnya sampai kamu tidak lagi tahu jalan untuk kembali.