Tampilkan postingan dengan label Rambling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rambling. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Agustus 2012

The Love(s)

The Second Time You Fall In Love With Someone 
Aug. 16, 2011 By Ryan O'Connell 

The second time you fall in love with someone, you’re going to feel so relieved. When you get your heart broken for the first time, you can’t imagine loving someone else again or having someone else love you. You worry about your ex finding love before you do, you worry about being damaged goods. And then it happens. Someone else loves you and you can sleep well at night.

The second time you fall in love with someone, it’s going to feel different. The first time felt like a dream almost. You were untouched, untainted by anyone. You accepted love with wide open arms and desperation. “Love me, love me, love me!” So you did. And then it fell apart and left you shocked to the core. You realized that people could be cruel and break your heart. You realized that people could stop meaning the sweet things they said to you just yesterday. So when you go into it again, you’re going to keep in mind everything that you’ve learned. You’re going to say, “Love me, love me, love me…until you don’t. In which case, I would like some advance warning. Thanks!” 

The second time you fall in love with someone, you’re going to compare it to your first love. That’s okay. That’s natural. You’re going to be studying the new love with judgement and wariness. “My ex never liked broccoli. Why the hell does this one eat so much broccoli?!” Discovering that you have the ability to love multiple people who are different and feel different is initially very jarring. Loving an unfamiliar body will leave you disoriented and in dire need of a map. That’s okay too. That’s to be expected. Just ask the new love for directions. 

The second time you fall in love with someone, you’re going to suffer from a bout of amnesia. You’re going to poke and prod at your lover’s body and be like, “Wait, how do I do this again? How do I love you? I think it starts with us having a moment together in some coffee shop, right?” It’s going to feel scary at first. Falling in love is sort of like riding a bike though. You never really forget. 

The second time you fall in love with someone, you’ll be a more sane person. Your first love is when you get all of your insanity out. You behave like an insane monster because your mind is freaking out about all these new powerful feelings. By the second time, however, you have an idea of what works and what doesn’t. It’s by no means perfect. The insanity will make a cameo at some point. “Peek a boo. I’m here! Hope you didn’t forget about me!” But you can usually shoo it away after awhile. 

The second time you fall in love with someone, you will hopefully have better sex. Do not quote me on this. The second time you fall in love with someone will still be exciting and you might even talk about moving in together or marriage. It will feel more “adult.” You have no idea what adult love actually is but you think it involves making coffee for each other in the morning and maybe even getting a dog. “This is my dog, Xan. I got him with the second person I fell in love with because that’s what you do! The first person I was in love with would’ve killed a dog.” 

The second time will not be the first time. The first time is an insane magical life gift that you can never reclaim. But that’s okay. The second time is more real anyway. The second time can involve some amazing love.

----

People has been asking me to write, Honestly, I am inspiration-less. But then I stumbled into that article, and somehow it speaks what's on my mind. Loud and clear.

I believe that every kind of loves that touches my life shapes me into the way I am today.
I learned from everyone that has been a dearest to me.
 learned from every kind of love that has touched my life.
It builds me, It strengthened me, It molds me, It creates and transform me.
And until this very second, i still believe that I'm still on that path. The evolution path. The path that I hope will lead me to a better me.

So, there is no regret.
I never regretted every single thing that I've been through.
Because without all those lessons, without all the scars and the painful events.. I'll be the same old me who lives in a pink bubble.
And without all the love that been given to me endlessly by some of angels, I wouldn't know how to love back.


- Posted using BlogPress from my iPad

Rabu, 11 Juli 2012

The Beauty






Sudah beberapa hari ini saya tidak mandi. Tepatnya ini hari kelima.
Dengan korset lengan yang menjadikan sauna seperti tempat yang terasa nikmat, saya masih berperang dengan tumpukan pekerjaan, bahkan masih menyempatkan diri pergi menonton hitung cepat di tempat pemungutan suara sebelah rumah saya kemarin.

Jadi jangan tanyakan soal mood saya, sudah pasti berantakan. Apalagi bertanya soal penampilan saya, sudah pasti tidak memenuhi standard.
Separuh keluarga saya menyebut saya nekat, separuh lagi menyebut saya artifisial. Bagaimana tidak? Operasi bukan barang umum, apalagi cosmetic surgery, lebih langka lagi di keluarga kami.
Kenapa saya melakukan ini, mungkin sulit dipercaya. Apalagi kalau alasannya sesimple apa yang saya utarakan, "i just want to be more beautiful".
Pacar saya berkoar-koar panjang lebar, katanya saya sudah cukup cantik, sudah menggairahkan. Tidak perlulah pisau bedah merajah tubuh saya. Tapi bukan saya, kalau tidak memberontak.

Ibu saya bolak-balik marah-marah, katanya olahraga saja juga bisa. Tapi ini jaman instan, kalau bakmi saja bisa instan, kenapa membuang lemak tidak bisa instan?

Jadi inilah kondisi saya sekarang,
Sakitnya sih tidak seberapa, meski saya sama sekali tidak menyarankan untuk para si cengeng. Tapi repotnya itu yang kenapa-napa. Apalagi untuk si maniak mandi dan keramas seperti saya.
Menyesal? Hm, tidak juga. Mau lagi? Enggak juga :p

Cuma berharap sabtu cepat datang, dan korset sialan ini cepat dibuka.
Cuma kangen setengah mati sama air, dan kangen bercinta dengan bebas.
Until then, jangan harap mood saya bagus, atau pakaian saya bisa enak dipandang.


- Posted using BlogPress from my iPad

Jumat, 28 Oktober 2011

The Flames




Would you face the flames for me?
What if you knew you might not make it?
Will you still do it me?

Jumat, 21 Oktober 2011

The Wish



You know why I became a strong woman?
Because being weak was never a choice.
Because people failed you, and I learn that the only person you can depend on is yourself.

Jumat, 07 Oktober 2011

The Colour Of Love


Sepanjang hampir tiga puluh tahun hidup saya, saya hanya pernah jatuh cinta tiga kali.
Cinta yang mengubah hidup saya, yang membentuk dan mendewasakan saya.
Cinta yang membuat saya menjadi siapa saya saat ini, dengan segala kelemahan dan kelebihan yang saya punya.

Wanita pertama yang saya cintai mengajarkan saya menjadi wanita yang lebih baik. Dia mengajarkan saya tentang pentingnya sebuah integritas, menjadi wanita dengan nilai-nilai terhormat.
Dia seorang Leo sejati, dengan pemikiran yang luar biasa matang. Cinta pertama saya, yang saya cintai dengan cinta yang mungkin serupa warna putih.
Saya sering berkata, dan itu sebuah kebenaran .. Bahwa tanpa dia, mungkin saya tidak akan pernah menjadi wanita seperti ini.

Wanita kedua yang saya cintai mengajarkan saya tentang cinta yang berbagi. Cinta yang bersanding sempurna dengan luka, yang mengguncangkan batas antara benar dan salah, yang mengaburkan ilusi dan kenyataan.
Cinta yang kami punya serupa warna merah darah, cinta yang penuh kegilaan, persetubuhan yang tak pernah usai, pesta pora dan kemabukan.
Bersama dia saya tumbuh menjadi seseorang yang tak kenal lelah. Berusaha meruntuhkan satu demi satu tembok, menghajar setiap rintangan sampai hati babak belur tidak karuan.
Tidak pernah ada kata biasa jika bicara tentang dia. Karena dia tidak pernah abu-abu. Dia bisa mencintai dan menyakiti kamu dengan cara yang sama pintarnya. Membuatmu merasa berharga dan tidak berharga pada saat yang bersamaan. Seperti orgasme yang tak pernah usai, cintanya menjadi candu.

Wanita yang saya cintai saat ini adalah wanita sederhana yang menyentuh saya dengan caranya yang luar biasa. Saya bahkan tidak punya cukup kata untuk menggambarkan dia. Dia begitu unik sekaligus membumi.
Mungkin Tuhan menciptakan dia seperti nila, gabungan dari begitu banyak spektrum warna.

Kadang ada sisi biru yang keluar, sisi yang membuat saya ingin memeluk setiap lukanya. Kadang jingga yang hadir, indah.. Seperti senja. Tapi lebih sering kuning yang dominan. Seperti bunga matahari di ladang, berdiri menantang matahari.

Saya mungkin tidak mencintai dia dengan cara yang sama seperti saya mencintai dua wanita saya yang lain. Karena banyak hal sudah berbeda, dan saya bukan lagi wanita naif yang punya cinta bewarna putih atau si gila yang haus oleh gairah.

Mungkin cinta saya tidak lagi membadai dan meledak-ledak serupa dinamit, tapi ada rintik gerimis yang tak pernah berhenti turun untuk dia.
Dan setiap pagi, saya mendapati bahwa saya jatuh cinta lebih dalam lagi pada dia.
Saya mencintai dia dengan cinta yang lebih sederhana, dan moga-moga lebih dewasa.

Saya bersyukur untuk kekasih pertama saya, tanpa dia saya tidak akan pernah tahu nilai-nilai yang membuat saya menjadi lebih baik. Ataupun untuk dia yang kedua, yang mengajarkan saya untuk tidak mengkhianati diri saya.
Dan yang pasti tanpa mereka, saya tidak akan pernah bisa menghargai wanita yang bersama saya saat ini.
Untuk itu, saya harus berterima kasih pada luka yang mendewasakan hidup saya.

Kamis, 06 Oktober 2011

The Insecurities



Kalian tahu apa yang paling saya benci pada saat saya sedang jatuh cinta? perasaan ingin dicintai. Perasaan tidak cukup percaya diri yang kadang tidak pernah jemu menerbitkan tanya di pikir. Secara kasat mata memang tidak masuk akal. Apalagi untuk orang-orang yang tidak begitu mengenal saya. Bagaimana mungkin seorang Belle bisa menjadi tidak percaya diri? bukankah lakunya selalu sempurna, bukankah senyum tak kenal lelah selalu berhasil disunggingkan dengan pantas? Bukankah dia selalu kuat, tanpa pernah menunjukkan kelemahan?

Sebenarnya memang tidak mudah buat saya untuk menampilkan lapisan terdalam dari diri saya. Lebih mudah untuk mengenakan topeng dan mengabur bersama sekitar. Lebih mudah berlatih untuk menahan emosi, menampilkan laku tidak tercela dan tata krama yang sempurna. Lebih mudah berpura-pura tidak terluka, dibandingkan harus menjelaskan kenapa air mata harus turun. Lebih mudah menggigit lidah agar tak ada kata yang keluar, dibanding harus bercerita tentang luka di dada.

Mungkin itu sebabnya saya melatih diri saya dengan lebih keras. Membunuh rasa membutuhkan, membunuh rasa ingin dimengerti. Itu sebabnya saya berusaha untuk menjadi lebih kuat, mengabaikan setiap rasa yang menusuk, mengabaikan ego yang terkadang keluar tak terkendali. Mungkin itu sebabnya saya berusaha untuk menempatkan orang lain diatas kepentingan saya, karena dengan begitu saya tidak akan merasa terluka, jika saya mendapati bahwa saya tidak cukup penting untuk mereka.

Karena tahukah kalian bahwa cinta itu begitu memabukkan? dia menempatkanmu dalam neraka keinginan yang tidak akan pernah ada cukupnya. Cinta seperti heroin yang terus menerus akan kamu butuhkan dengan dosis yang semakin lama semakin besar. Dan sayangnya, tidak akan pernah ada jaminan bahwa akan ada orang yang akan mencintaimu dengan lebih setiap harinya.

Dan yang paling menyakitkan mungkin adalah pada saat nanti dimana kamu serasa tersadar dari mimpi dan mendapati, bahwa seberapa kerasnya pun kamu berusaha untuk mencintai orang lain, mereka tidak akan pernah bisa mencintamu sebesar yang kamu layak dapatkan. Dan seringkali saat masa itu tiba, kamu sudah mencintai sebegitu dalamnya sampai kamu tidak lagi tahu jalan untuk kembali.

Sabtu, 25 Juni 2011

The illusions



Kamu tahu,
Saya punya standard yang tinggi dalam menetapkan sebuah kejujuran. Bahkan mungkin terlalu tinggi, jika dibandingkan dengan banyak manusia lainnya.
Saya tidak lagi percaya abu-abu, membenci ketidakpastian dan mencurigai setiap kepastian.
Katakan saya sebuah kalimat, maka saya akan mengkajinya berulang kali. Mengamatinya dengan teliti supaya tidak ada celah yang dapat dipakai untuk menyakiti saya nantinya.
Mungkin ini trauma masa lalu, atau paranoia tingkat tinggi. Tapi inilah saya, tipikal manusia yang hidupnya babak belur dihantam kebohongan.

Karena itu saya tidak mau lagi mendengar janji. Karena bagaimana mungkin merancang masa depan, kalau hari ini saja manusia sulit berjalan lurus?
Bagaimana mungkin bisa memastikan apa yang belum sampai, kalau lidah tidak bertulang dan hati bisa bengkok sewaktu-waktu?

Mungkin itu alasannya, mengapa mereka bilang saya terlalu skeptis.
Si pahit yang sarkastik memandang hidup, itu kata banyak teman-teman saya.
Tapi tidak mengapa, karena pada akhirnya pun kesusahan seorang hanya akan ditanggung seorang pula.

Mungkin itu pula alasannya, mengapa hati saya tidak beranjak mendekati kamu. Walau sungguh, saya suka kamu.
Karena kamu terlalu abu-abu, tidak bisa dipercaya dan terlalu berbahaya buat saya.
Dan pikir saya masih terlalu kukuh, menaruh rambu-rambu untuk menghalangi gerak rasa.
Jadi disini saya, tidak beranjak sama sekali.
Diam.
Tenang.
Menanti.

Menanti apa, saya juga tidak tahu. Tapi yang saya tahu saya harus tinggal tenang, setidaknya saat ini. Membiarkan pusaran rasa berputar-putar di lekuk yang sempit, tanpa boleh keluar menemui muaranya.
Membiarkan letupan amarah tinggal tenang, hingga habis masa untuk bersedih.

Ya, mungkin itu alasannya. Kenapa saya memutuskan untuk membiarkan kamu pergi.
Karena topeng yang kamu kenakan terlalu tebal, terlalu ambigu dan terlalu menyimpan banyak kebohongan.
Dan kebohongan? saya tidak pernah suka.
Dan kamu? terlalu sulit untuk saya mengerti.

Jumat, 17 Juni 2011

Macabre




Is it wrong for me to not have you and yet not want anyone else to have you either? Because I don’t think my fragile heart can handle your words describing how someone else makes you better than who you are when I’m still wishing I was the light in your night.


Kadang ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Tepatnya, tidak perlu.
Karena penjelasan akan membawa lebih banyak lagi pertanyaan. Dan pertanyaan akan menuntut lagi penjelasan. Seperti tikus dalam lingkar labirin, berputar-putar tanpa jalan keluar.
Jadi kadang lebih baik diam, menikmati kekinian dan melupakan hari kemarin.
Berhenti berandai-andai apalagi mengucapkan doa.
Hanya diam, disini. Menikmati kekosongan hari ini.

Kadang ada kata-kata yang harus diucap.
Sesakit apapun itu, semunafik apapun kedengarannya.
Ternyata tidak sesulit itu, mengucapkan kata yang sebenarnya tak ingin kita lontarkan.
Hanya perlu merapal mantra dan menguatkan hati, mengujarkannya dengan nada yang tepat dan tak terdengar sedih.
Semudah itu.

Dan kadang ada hal-hal yang harus berakhir tanpa penyelesaian.
Karena seberapa kerasnya pun manusia berusaha ada hal lain yang bernama takdir.
Mungkin yang terpenting adalah berusaha menerima semuanya dengan lapang dada,
Berharap bahwa pada akhirnya pun bahagia akan temukan muaranya.

Kadang tidak perlu ucapan selamat tinggal,
Hanya perlu punggung yang menjauh pergi supaya tak pernah terbaca air mata.


Jumat, 15 Oktober 2010

Alice in a wonderland



The one thing us humans can't go past is history. It's always there, hanging above us like a shadow. In the end it's what defines us. It's why we're scared or anxious. Why we're afraid to take risks. Because we all know how much it burns when it hurts.

Tapi selalu ada kamu, disana.
Di malam-malam saya yang resah,
Di pagi-pagi saya yang gelisah.

Lalu tidak perlu lagi ada banyak harap,
atau banyak pinta, ataupun banyak asa.

Cukup sebuah kejujuran yang bulat.
Percayalah, itu bahkan sudah lebih dari cukup.

At the end of the day, we always have a choice. To run around in circles, driving ourselves mad. Or just sit still and take it all in. Bit by bit, emotion by emotion, memory by memory. Store it in a box and shut it tight. Add it to our category of life and tuck it away.

Dan tidak perlu banyak janji,
Cukuplah ada disini
Hari ini.

We're either Alice or we're the rabbit. We're either running or we're looking.
And I'm done running.


Jumat, 08 Oktober 2010

The Rainbow



Saya dulu pintar menulis.
Really.
Mungkin tidak sepintar para pengarang novel, atau para pujangga.
Tapi saya selalu bisa menulis. Menalikan kata demi kata, mengikatnya erat menjadi kalimat yang setidaknya cukup matang untuk dibaca.

Cinta.
Tanyakan tentang itu pada saya tahun lalu.
Saya akan mengurainya menjadi ribuan tulisan.
Dan saya jamin kamu akan mengerti.

Tapi sekarang menulis itu bukan lagi pekerjaan yang mudah untuk saya.
Kadang saya hanya diam di depan kubus maya, berharap ada seketik dua ketik kata yang bisa saya tulis.
Kadang saya jadi gagu, karena seberapa keraspun saya berusaha tidak pernah tercipta lagi lagu.

Sedangkan menulis tentang luka juga bukan sebuah jawab.
Karena kalau saya saja bosan mengasihani diri sendiri, apalagi yang membaca?
Lagi pula semua tampak basi, kalendar saja sudah berganti bulan.
Sudah musim penghujan, masa saya masih berurai air mata?
Terlalu cengeng,
Terlalu drama.
Saya tidak suka.

Itulah mungkin mengapa saya tidak lagi banyak menulis. Selain beberapa tulisan singkat sebagai penanda hidup.

Bukan, bukan karena saya tidak baik-baik saja.
Bukan pula karena saya tidak ada pada satu titik dimana saya sudah mulai bisa melihat segalanya dari sudut yang berbeda.
Hanya saja apa yang saya punya sekarang itu masih terlalu sedikit untuk saya bagi.
Kalau buat saya saja itu masih belum cukup, saya rasa tidak perlulah saya tulis disini.

Yang pasti waktu sudah berjalan dengan lebih wajar. Pikiran saya sudah mulai tidak melantur kesana dan kesini. Masa lalu sudah saya tambatkan jauh-jauh ke dasar laut.
Walau masa depan masih entah ada dimana, dan kata cinta belum lagi bisa terucap.
Tapi sudah ada jejak bibir lain yang menghapus jejaknya di bibir saya.

Itu sudah cukup,
Karena saya tidak boleh lagi serakah.
Sungguh,
Takut Tuhan marah!

---

Di belakang banyak hantu penunggu masa lalu
Di depan ada rahasia Sang empunya waktu
Tapi disini, ada pelangi yang cairkan batu


Sabtu, 02 Oktober 2010

Tentang Gundah



Kamu tahu, kadang masa lalu itu seperti hantu. Mereka datang begitu saja, melekat dalam pikir dan tak mau pergi. Mereka membebani langkah, mengikat kaki dengan rantai sampai kaki lekat dengan tanah. Mereka meracuni hati, mengkarati setiap kebahagiaan yang berhasil engkau ciptakan dengan susah payah. Seperti gelembung sabun yang ditusuki oleh jarum, seperti itulah bisa kau dengar nanah dihatimu pecah mengeluarkan bisa.

Saya tidak mengerti akan orang-orang perkasa yang berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Saya bertanya-tanya apa yang mereka lakukan sehingga telinga berhasil ditulikan dan mata seperti tertutup kain hitam. Saya tidak mengerti, orang-orang yang masih saja mampu menyusun keping kehidupan setiap kali badai datang dan menghamburkan segalanya.
Benarkah ada rasa benci yang begitu besar yang mampu menggerakan roda kehidupan? Atau mungkin ada kedamaian yang mampu menerbitkan sebuah kata ikhlas?

Saya tidak pernah membenci masa lalu saya. Mungkin mulut saya memang penuh makian, mungkin hati saya pahit dan jiwa saya keruh. Tapi untuk benar-benar membenci masa lalu saya rasanya tidak mungkin.
Bukan, bukan karena saya tidak punya cukup alasan. Bukan pula karena dia tidak pantas untuk saya sumpah serapahi. Tapi menurut saya aneh, membenci seseorang yang pernah kamu cintai setengah mati. Saya juga tidak pernah benar-benar bisa lupa. Karena seperti yang tadi saya bilang, masa lalu selalu punya cara untuk menyelusup masuk ke dalam kekinian.
Mungkin seperti wangi kopi pahit yang merasuki mimpimu.. menggugah sadarmu bahwa pagi telah tiba, dan kamu harus bangun.

Tapi kalau ada yang saya pelajari akhir-akhir ini mungkin adalah sebuah kenyataan bahwa hidup itu bukan sebuah film. Bahwa tidak pernah ada kata "rewind", "pause", atau "fast forward" dalam hidup.
Konsekuensi dari sebuah pilihan kadang tidak bisa kita anulir. Waktu-waktu berharga tidak bisa kita hentikan seberapa keraspun kita berusaha, dan luka? Tidak pernah ada jalan untuk memajukan waktu dan mengeringkannya dengan seketika.

Hidup adalah sebuah nyata. Bukan film 2 jam yang diakhiri oleh kata "dan mereka hidup bahagia selamanya".
Hidup adalah sebuah nyata, dan mungkin tidak pernah akan ada seorang pangeran yang mau bersusah payah menerobos hutan belantara hanya untuk mencium Sang putri tidur.
Hidup adalah sebuah nyata. Manusia itu kadang tidak khilaf. Mereka berubah pikiran.

Masa lalu itu adalah bagian dari saya.
Dan saya tidak punya tongkat ajaib untuk menghapus itu dari otak saya.
Saya hanya perlu mencari cara untuk berdamai dengan semuanya. Berhenti bertanya mengapa dan kenapa. Karena mungkin benar kata seseorang, sebuah jawaban hanya akan menimbulkan pertanyaan lain.

Karena kadang seseorang hanya berhenti mencintai, tanpa alasan.
Karena kadang manusia pergi, dan mereka tidak kembali.


Soekarno Hatta
- Dalam gundah yang datang tiba-tiba.

Jumat, 01 Oktober 2010

The Place



I know I will get to that place someday,
The place when smile is not only a fake gesture.

Kamis, 30 September 2010

The Quotes



I'm not broken. I'm just tired and it shows.

I think that quotes explains almost everything, full stop.

You know what I want to do?
What I really really want to do?
Creeps back, and sleeps.

Wakes me up, someday.

And NO, it's not blue.
It's black.

And NO, I'm not okay.
Just Don't ask me why.

Sabtu, 25 September 2010

#Selfnote - 4



There was a sentence that the Tarot lady said that's been bugging my mind from yesterday.

"You have to find yourself first, to know what you wanted to be, to be happy with yourself .. before you can find your true happiness"

Probably, I was seeing this whole problem of me from a different point of view.

I think I need to find my solitude, soon.

Ps: One thing I have to keep in mind probably is when people really care about you, they won't treat you like a shit. And I have to stop.. feeling like shit towards someone who doesn't even deserve my respect.

Kamis, 23 September 2010

The Start?



Saya sering bilang bahwa kita bertemu pada waktu yang salah. Percayalah, itu bukan omongan basa-basi, atau kalimat yang saya keluarkan karena saya ingin menarik perhatian kamu. Karena sungguh, saya berpikir andai saja kita bertemu pada rentang waktu yang berbeda, pada masa dimana semuanya masih mudah. Pada masa dimana hati saya belum retak, mungkin saat ini saya akan tersenyum lebih riang. Mungkin mata saya akan bersinar lebih cerah.

Saya juga sering berkali-kali memperingatkan bahwa saya tidak punya apapun lagi. Bahkan tidak ada lagi sepotong hati untuk mencintai. Dan itu sebuah kejujuran, karena apa yang tersisa di rongga dada itu cuma sebuah bulatan hitam. Dan saya pikir kamu pasti tidak suka, kalau saja saya jujur dan membuka kain kafan yang ada.

Tapi toh nyatanya kamu tetap ada disana, sampai hari ini. Tidak perduli seberapa seringnya saya kumat dan kemudian memarahi kamu karena menurut saya kamu bodoh. Tidak perduli seberapa kecewanya kamu karena saya sering kali melukai kamu dengan kata-kata saya.

Kamu tetap disana. Walaupun berulang kali saya katakan bahwa saya bahkan tidak bisa menjanjikan apapun kepada kamu. Karena bagaimana mungkin saya menjanjikan sesuatu, kalau saya saja bahkan tidak tahu apakah saya akan pernah bisa mempercayai janji lagi atau tidak?

Jadi ini saya, berusaha mengucapkan terima kasih kepada kamu.
Terima kasih untuk bersedia bertahan. Terima kasih untuk bersedia ada. Terima kasih untuk memilih membayar harganya. Saya tahu itu tidak mudah buat kamu, saya tahu kamu bahkan punya begitu banyak pilihan yang lebih baik di luar sana.
Saya hanya bisa berkata bahwa saya akan berusaha, supaya suatu hari nanti setidaknya akan ada cara yang cukup pantas dalam menghargai segala hal yang telah kamu lakukan untuk saya.

(Thank you, for not giving up)

Rabu, 22 September 2010

The Time



Tahukah kamu bahwa kadang hati itu ajaib?
Dia tahu dengan pasti apa yang waktu tidak tahu. Dia tahu dengan jelas apa yang cuma bisa diraba pikir.

Dan seperti itupun hati akan tahu, bahwa segalanya telah terlambat.
Luka yang ada terlalu besar bahkan untuk dijahit dengan ribuan kata.
Kepahitan menulang, merasuk, dan meracuni setiap pembuluh darah.
Cinta cuma sepenggal rasa, yang seperti parasit menyedot setiap apa yang tersisa di rongga dada.

Kamu pasti tahu apa yang saya bicarakan, kalau kamu memang pernah ada di titik itu.
Saat dimana masa lalu datang menghampiri, namun bahkan tidak ada kekuatan lagi untuk sekedar menjulurkan lengan.
Saat dimana matamu menatap nanar, karena apa yang bisa kamu lihat itu cuma setiap janji yang dirobek oleh dusta.
Saat dimana kamu mencari apa yang pernah kamu temui di mata itu, namun tidak bisa lagi kau dapatkan apapun di dalamnya.
Saat kata telah hambar, karena rasa percaya sudah tidak tersisa lagi.

Saya ada disana. Saat ini.
Dengan pikir yang berteriak agar saya pergi, dan hati yang masih belum mampu untuk merelakan.
Karena bagaimana mungkin semudah itu merelakan? mengakui bahwa memang kamu memilih orang yang salah. Mengakui bahwa cinta yang dulu pernah jadi segalanya buat kamu bahkan tidak berarti apapun untuk dia.

Saya ada disana.
Saat ini.
Dentum detik yang berbunyi seperti meriam yang ditembakan. Dan luka yang menyayat pelan-pelan sampai kamu tidak tahu bahwa kamu sedang menangis.
Menangisi masa lalu, menangisi apa yang telah pergi, menangisi apa yang tidak mungkin kembali.

Kalau kamu pernah ada disana, saya yakin kamu tahu.
Satu titik dimana pada akhirnya kamu tahu bahwa sudah saatnya merelakan.
Karena orang yang pernah kamu perjuangkan mati-matian itu, sudah tidak ada lagi disana.

Sabtu, 18 September 2010

The Smile.



It's kinda lame, or cheesy.
You name it.
But there is something about you that makes me smile.
I hope I have the same effect on you ;)

<3

The Friendship



Semua orang yang kenal saya dengan baik tahu dengan pasti bahwa saya tidak punya "gift" untuk berteman. Selain untuk urusan pekerjaan, saya bahkan tidak tahu bagaimana caranya mendekati orang asing. Dunia yang nyaman buat saya ya dunia kecil yang saya bangun. Tak banyak yang bisa masuk, apalagi bersama-sama duduk di "sofa".

Dalam hal menentukan apakah seseorang dapat masuk ke dalam dunia saya, saya semata-mata mengandalkan perasaan. I believe in intuition, I believe in feelings. Dan feeling saya, jarang meleset.

Saya percaya penilaian pada kesan pertama. Tidak harus lewat perjumpaan, bisa saja hanya lewat untaian kata. Tapi buat saya, chemistry itu penting. Sangat penting.
Saya bisa saja jatuh cinta pada seseorang yang rupanya belum berbentuk, saya bisa saja antipati pada seseorang karena saya tidak suka tingkahnya. Semuanya subjektif. Tapi saya rasa itu hak saya.

Hanya perlu sesaat, untuk memilah apakah orang tersebut akan berlabel kenalan, kawan, karib, atau kekasih. Sekali lagi, saya percaya chemistry. Saya percaya intuisi.

Mungkin kalian bertanya-tanya, kalau saya merasa saya hampir tidak pernah salah memilih, mengapa saya putus cinta? Bukankah kisah cinta yang tidak berhasil itu berarti pilihan yang salah?
Sebenarnya tidak juga. Pada saat saya memasukan seseorang ke dalam suatu kotak yang saya labeli "kekasih", saya tidak salah. Karena setiap kekasih saya turns out to be a good lover, a magnificent one perhaps.
Dan kalau pada akhirnya hubungan kami tidak berhasilpun itu bukan berarti bahwa lover's chemistry itu tidak pernah ada.
Tidak semua love stories itu akan berlangsung panjang, atau bahkan selamanya. Some love stories destined to be a short one, but it is still a love stories.

Tapi hari ini saya bukan sedang ingin bicara soal kekasih, atau soal patah hati. Saya ingin bicara tentang rasa lain, tentang persahabatan.
Like i said before, i dont have much friends. Mungkin itu sebabnya saya tidak mau membuat "buku wajah" a.k.a facebook.
Seseorang mengkritik saya kemarin. Dia bilang saya sombong. Saya tidak pernah mau menghadiri reuni teman-teman sekolah saya. Buat saya reuni mengenang masa lalu itu tidak penting. Orang-orang yang berarti buat saya, teman-teman dan sahabat yang penting untuk saya, jaraknya cuma sejangkauan telepon. Saya tahu nomor mereka, saya bisa menemui kapanpun mereka sempat. Sisanya tidak penting.

But lately I've been making few more friends. Saya memperluas dunia saya, menambah beberapa buah sofa dan mempersilahkan beberapa nama baru hadir dalam hari-hari saya.
Saya bahkan tidak tahu apakah ini adalah cara yang tepat untuk membuat saya utuh kembali. Tapi yang saya tahu beberapa dari mereka berhasil membuat saya merasa lebih baik. Beberapa dari mereka membuat saya merasa bahwa hidup terus berjalan, dan saya masih punya begitu banyak hal di masa depan.
Tapi yang pasti setiap dari mereka, dengan keunikan masing-masing membuat saya belajar mengenal diri saya sendiri.

Hari inipun saya bertemu dengan satu orang baru lagi. Seorang cakap, di usia hampir 40 tahun. Dan lagi-lagi sebuah pembelajaran. Kali ini topiknya tentang mengenali diri sendiri, tentang tahu apa yang kita mau, apa yang kita bisa, dan kelemahan kita.
Topiknya tentang passion. Passion of making something better, passion of contributing something to society. Passion of being alive, no matter how bumpy is the road.

Ternyata mungkin benar, at some point in your life, you should start reaching out. Belajar dari sekitar kita.
And at the end of the day, being someone better.

(As we grow up, we don’t lose friends. We just learn who our real ones are.)

Jumat, 17 September 2010

The Decision



Rasanya saya sudah tidak kuat, kalau harus berjalan dalam ranah ketidakpastian.
Saya benci abu-abu. Hal-hal yang tidak jelas, antara putih dan hitam.
Saya benci menerka-nerka. Tahukah kamu kenapa? Karena ketidakjelasan mudah diputarbalikan, lidah tidak bertulang, dan pada akhirnya yang tersisa itu cuma segenggam kata maaf.
Kata maaf yang bahkan tidak bisa membayar apapun. Kata maaf yang cuma melegakan sang pengucap, tanpa mampu menyambung patahan hati.

Jadi saya memilih untuk tidak menjadi pelakon. Bukan figuran, apalagi pemeran utama.
Saya duduk diam saja, di kursi penonton.
Memperhatikan sulaman pada tirai, menyaksikan drama tiga babak, dan bertepuk tangan keras-keras pada saat waktunya encore.

Karena saya dengan berat hati memutuskan menolak menjadi bagian dari keramaian. Dan juga meniadakan apa yang hening.
Membiarkan sekali lagi cinta menemukan jalannya sendiri.
Dan merelakan rentang waktu mencari jawaban, apakah saya dan dia akan pernah ada di sisi yang sama.

Dan kalau saja saya hanya menjadi sekedar pengisi waktu luang, maka saya akan memalingkan kepala dan berlalu.

(I let you decide)

Kamis, 16 September 2010

The Gambling



I rolled the dice.
Let's see how it pans out.