Kamis, 30 September 2010

The Quotes



I'm not broken. I'm just tired and it shows.

I think that quotes explains almost everything, full stop.

You know what I want to do?
What I really really want to do?
Creeps back, and sleeps.

Wakes me up, someday.

And NO, it's not blue.
It's black.

And NO, I'm not okay.
Just Don't ask me why.

Rabu, 29 September 2010

#Selfnote - 6




Choose one of the most appropriate scenarios:

1. Expectation kills;
2. Thats why we're not supposed to expect.
3. Or Hope for this matters.

OR

1. Explanation is not really needed;
2. Because when people want to leave there won't be an explanation good enough to make them stay.
3. That's why we should never look back.

OR

1. What that doesn't kill you just make you stronger;
2. So what you have to do is just take a deep breath
3. And allow no one else to ever hurt you again.

Selasa, 28 September 2010

#Selfnote - 5



Sometimes, what we want is not relevant.
What we have to do is just make peace.
And cherish everything that is here now.

Sabtu, 25 September 2010

#Selfnote - 4



There was a sentence that the Tarot lady said that's been bugging my mind from yesterday.

"You have to find yourself first, to know what you wanted to be, to be happy with yourself .. before you can find your true happiness"

Probably, I was seeing this whole problem of me from a different point of view.

I think I need to find my solitude, soon.

Ps: One thing I have to keep in mind probably is when people really care about you, they won't treat you like a shit. And I have to stop.. feeling like shit towards someone who doesn't even deserve my respect.

Kamis, 23 September 2010

The Start?



Saya sering bilang bahwa kita bertemu pada waktu yang salah. Percayalah, itu bukan omongan basa-basi, atau kalimat yang saya keluarkan karena saya ingin menarik perhatian kamu. Karena sungguh, saya berpikir andai saja kita bertemu pada rentang waktu yang berbeda, pada masa dimana semuanya masih mudah. Pada masa dimana hati saya belum retak, mungkin saat ini saya akan tersenyum lebih riang. Mungkin mata saya akan bersinar lebih cerah.

Saya juga sering berkali-kali memperingatkan bahwa saya tidak punya apapun lagi. Bahkan tidak ada lagi sepotong hati untuk mencintai. Dan itu sebuah kejujuran, karena apa yang tersisa di rongga dada itu cuma sebuah bulatan hitam. Dan saya pikir kamu pasti tidak suka, kalau saja saya jujur dan membuka kain kafan yang ada.

Tapi toh nyatanya kamu tetap ada disana, sampai hari ini. Tidak perduli seberapa seringnya saya kumat dan kemudian memarahi kamu karena menurut saya kamu bodoh. Tidak perduli seberapa kecewanya kamu karena saya sering kali melukai kamu dengan kata-kata saya.

Kamu tetap disana. Walaupun berulang kali saya katakan bahwa saya bahkan tidak bisa menjanjikan apapun kepada kamu. Karena bagaimana mungkin saya menjanjikan sesuatu, kalau saya saja bahkan tidak tahu apakah saya akan pernah bisa mempercayai janji lagi atau tidak?

Jadi ini saya, berusaha mengucapkan terima kasih kepada kamu.
Terima kasih untuk bersedia bertahan. Terima kasih untuk bersedia ada. Terima kasih untuk memilih membayar harganya. Saya tahu itu tidak mudah buat kamu, saya tahu kamu bahkan punya begitu banyak pilihan yang lebih baik di luar sana.
Saya hanya bisa berkata bahwa saya akan berusaha, supaya suatu hari nanti setidaknya akan ada cara yang cukup pantas dalam menghargai segala hal yang telah kamu lakukan untuk saya.

(Thank you, for not giving up)

Rabu, 22 September 2010

A letter to dear so, and so.



Dearest Gail,

Saya tidak pandai menulis surat perpisahan. Bahkan sampai detik ini pun tidak pernah benar-benar terlontar kata selamat tinggal dari bibir saya. Karena bagaimana mungkin saya mengucapkan selamat tinggal, kalau saya bahkan tidak bisa mengucapkan jaga diri kamu baik-baik dengan sempurna?

Saya mencintai kamu, Gail. Setidaknya saya pernah benar-benar mencintai kamu.
Saya mencintai kamu dengan cinta yang bahkan saya tidak tahu darimana asalnya. Saya mencintai kamu dengan begitu hebatnya sampai saya meniadakan semua logika, dan lupa berjalan di bumi. Saya bahkan mencintai kamu sampai saya rela menjungkirbalikan hidup saya hanya untuk mendapat secercah dari senyum kamu.
Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan berhenti mencintai kamu. Karena bagaimana mungkin? Kisah cinta antara kita dalah kisah cinta yang didengungkan oleh dongeng-dongeng. Kisah cinta yang seharusnya diakhiri dengan kalimat "dan mereka hidup berbahagia selamanya"

Selamanya, Gail.
Begitu pahit kata itu tereja di lidah saya.
Selamanya yang seharusnya bisa kalau saja kamu tidak memilih untuk membuang saya tepat pada saat saya bersedia melepaskan segalanya.
Selamanya yang tidak mustahil kalau saja kamu setia pada mimpi kamu. Pada mimpi kita.
Selamanya yang memaksa akhirnya memaksa saya untuk bangun dan mendapati bahwa kamu tidak layak untuk saya cintai, tidak layak untuk digilai.

Gail,
Saya tidak tahu bagaimana kita bisa sampai pada titik ini. Titik dimana saya bahkan tidak mengenali rupa kamu lagi. Bukan karena kamu tidak sekurus dulu, bukan pula karena kamu memotong dan meluruskan rambut kamu.
Hanya saja mata kamu, mata itu sudah tidak sama. Entah di titik mana, kebaikan yang dulu begitu saya puja sudah tidak ada lagi.
Gail yang dulu saya cintai, sudah mati ditelan dunia.

Gail, mungkin buat kamu semudah itu. Menghubungi saya, mengucapkan satu dua bahkan tiga kata maaf, untuk kemudian meminta saya kembali ke hidup kamu. Kamu bilang kamu butuh teman, kamu bilang kamu butuh saya.
Tapi pernahkah kamu berpikir apa artinya itu buat saya?
Pernahkah terlintas di otak kamu berapa banyak hari yang saya lalui dengan mimpi buruk?
Pernahkah kamu bayangkan betapa sulit hari-hari saya pada saat kamu memutuskan untuk membuang saya begitu saja?

Mungkin kamu tidak tahu, mungkin kamu tidak mau tahu, atau mungkin tidak pernah penting buat kamu untuk tahu. Karena yang saya tahu, apa yang penting buat kamu adalah yang kamu mau. Sisanya adalah gumaman tidak jelas, tentang kesedihan kamu, tentang masalah kamu, tentang kesulitan kamu.

Lalu bagaimana dengan masalah saya? bagaimana dengan kesedihan saya? bagaimana dengan kesulitan saya? dimana kamu pada saat saya berperang dengan semua itu? dimana kamu pada saat saya menangis dengan begitu hebatnya?
Kamu tidak ada disini, Gail.
Kamu disana, merancang masa depan kamu.
Kamu disana, menghilangkan semua bagian tentang saya.

Gail, saya minta maaf kalau hari ini saya memutuskan untuk tidak menjadi teman kamu dalam bentuk apapun. Bukan saya tidak perduli dengan semua masalah kamu, justru karena saya terlalu perduli saya memutuskan untuk pergi dari kamu.

Karena tidak adil, Gail.
Tidak adil membiarkan hati saya berdarah terus menerus.
Tidak adil membiarkan orang-orang yang menyayangi saya kuatir tentang keadaan saya. Tidak adil meminta mereka mentolelir kebodohan saya terus-menerus hanya karena saya dengan keras kepalanya tidak mau merelakan kamu pergi.
Tidak adil bagi orang-orang yang menunggu saya.
Bagi orang-orang yang benar-benar perduli dengan saya.

Kamu tidak pernah seutuhnya menjadi milik saya, Gail. Karena saya bahkan tidak yakin bahwa kamu tahu bagaimana caranya mencintai orang lain selain diri kamu sendiri.
Jadi maafkan saya, maafkan saya karena saya memalingkan wajah kali ini.
Percayalah, seberapa banyak pun yang saya beri, apapun yang saya coba usahakan untuk kamu .. itu tidak akan pernah cukup.
Jadi saya rasa, tidak ada gunanya lagi.

The Time



Tahukah kamu bahwa kadang hati itu ajaib?
Dia tahu dengan pasti apa yang waktu tidak tahu. Dia tahu dengan jelas apa yang cuma bisa diraba pikir.

Dan seperti itupun hati akan tahu, bahwa segalanya telah terlambat.
Luka yang ada terlalu besar bahkan untuk dijahit dengan ribuan kata.
Kepahitan menulang, merasuk, dan meracuni setiap pembuluh darah.
Cinta cuma sepenggal rasa, yang seperti parasit menyedot setiap apa yang tersisa di rongga dada.

Kamu pasti tahu apa yang saya bicarakan, kalau kamu memang pernah ada di titik itu.
Saat dimana masa lalu datang menghampiri, namun bahkan tidak ada kekuatan lagi untuk sekedar menjulurkan lengan.
Saat dimana matamu menatap nanar, karena apa yang bisa kamu lihat itu cuma setiap janji yang dirobek oleh dusta.
Saat dimana kamu mencari apa yang pernah kamu temui di mata itu, namun tidak bisa lagi kau dapatkan apapun di dalamnya.
Saat kata telah hambar, karena rasa percaya sudah tidak tersisa lagi.

Saya ada disana. Saat ini.
Dengan pikir yang berteriak agar saya pergi, dan hati yang masih belum mampu untuk merelakan.
Karena bagaimana mungkin semudah itu merelakan? mengakui bahwa memang kamu memilih orang yang salah. Mengakui bahwa cinta yang dulu pernah jadi segalanya buat kamu bahkan tidak berarti apapun untuk dia.

Saya ada disana.
Saat ini.
Dentum detik yang berbunyi seperti meriam yang ditembakan. Dan luka yang menyayat pelan-pelan sampai kamu tidak tahu bahwa kamu sedang menangis.
Menangisi masa lalu, menangisi apa yang telah pergi, menangisi apa yang tidak mungkin kembali.

Kalau kamu pernah ada disana, saya yakin kamu tahu.
Satu titik dimana pada akhirnya kamu tahu bahwa sudah saatnya merelakan.
Karena orang yang pernah kamu perjuangkan mati-matian itu, sudah tidak ada lagi disana.