Selasa, 02 Oktober 2012

The Autumn






You're like this beautiful autumn.
Unreal, yet intriguing.
- Posted using BlogPress from my iPad

Senin, 24 September 2012

The Anniversary





Ada sebuah kalimat yang pernah saya baca, entah dimana. Katanya, jika kita ingin tahu siapa diri kita sesungguhnya .. Maka lihatlah karib kita.
Mungkin ini ada benarnya, karena manusia bisa diukur oleh siapa yang mereka pilih untuk ada dalam hidup mereka.

Dulu saya getir. Entah mulai kapan, saya juga tidak tahu.
Lalu disitulah saya, mencari manusia lain yang hidupnya sama getirnya dengan saya. Yang melihat dunia dengan kacamata yang sama, yang berpikir dengan sama skeptiknya, yang sama pahitnya.

Mungkin saya hanya tidak mau merasa sendiri dalam ketidakpuasan saya dalam hidup, mungkin juga saya mencari teman senasib-sepenanggungan supaya saya punya justifikasi atas pilihan-pilihan yang saya buat.
Atau mungkin saya hanya merasa berbeda, karena tidak pernah mampu melihat dunia dari sisi yang merah jambu.

I once was satisified with everything. Dengan setiap orang yang saya pilih, dengan pemikiran saya yang luar biasa apatisnya.
Satu persatu bata saya susun menjadi tembok kokoh berwarna abu-abu.
Ini saya, menentang dunia.
Ini saya, menghujat segala sesuatu yang berbau dongeng dan bahagia.

Tapi tahukah kalian bahwa apa yang nyaman itu kadang menyesatkan?
Saya begitu terkungkung dengan dunia yang saya ciptakan sampai saya merasa bahwa saya nyaman dengan keadaan seperti itu.
Keadaan dimana saya merasa saya tidak butuh bahagia.
Bahwa saya tidak pantas untuk bahagia.
Keadaan dimana saya merasa bahwa saya harus terus menerus menjadi lebih baik, lebih cantik, lebih sukses, dan lebih pintar hanya karena saya tidak mau dihina oleh dunia.

I was so bittered 'Til I forget that rainbow does exist.
I was so dark up to the moment I met her.

Mungkin banyak yang bertanya mengapa saya jatuh cinta pada dia.
It wasnt love at the first sight, definitely.
But i was in awe, the first time i knew her.
I was in awe because i didnt have any clue on how she keeps her faith eventhough she has every legit reason to be mad at the world.
I dont know why she isn't bittered, why she can still see the good in people when she has been betrayed in such a messy way.
Dan dengan orang seperti itu, how can you not fall?

Its been a year since we are together,
And what is amazing is .. Every single day, she taught me something new.
She shows me the beauty of the world, the goodness in people. And moreover, to see the good in me .. No matter how many times i failed.

I think, that is the greatest gift one can give u :)


- Posted using BlogPress from my iPad

Senin, 20 Agustus 2012

The Love(s)

The Second Time You Fall In Love With Someone 
Aug. 16, 2011 By Ryan O'Connell 

The second time you fall in love with someone, you’re going to feel so relieved. When you get your heart broken for the first time, you can’t imagine loving someone else again or having someone else love you. You worry about your ex finding love before you do, you worry about being damaged goods. And then it happens. Someone else loves you and you can sleep well at night.

The second time you fall in love with someone, it’s going to feel different. The first time felt like a dream almost. You were untouched, untainted by anyone. You accepted love with wide open arms and desperation. “Love me, love me, love me!” So you did. And then it fell apart and left you shocked to the core. You realized that people could be cruel and break your heart. You realized that people could stop meaning the sweet things they said to you just yesterday. So when you go into it again, you’re going to keep in mind everything that you’ve learned. You’re going to say, “Love me, love me, love me…until you don’t. In which case, I would like some advance warning. Thanks!” 

The second time you fall in love with someone, you’re going to compare it to your first love. That’s okay. That’s natural. You’re going to be studying the new love with judgement and wariness. “My ex never liked broccoli. Why the hell does this one eat so much broccoli?!” Discovering that you have the ability to love multiple people who are different and feel different is initially very jarring. Loving an unfamiliar body will leave you disoriented and in dire need of a map. That’s okay too. That’s to be expected. Just ask the new love for directions. 

The second time you fall in love with someone, you’re going to suffer from a bout of amnesia. You’re going to poke and prod at your lover’s body and be like, “Wait, how do I do this again? How do I love you? I think it starts with us having a moment together in some coffee shop, right?” It’s going to feel scary at first. Falling in love is sort of like riding a bike though. You never really forget. 

The second time you fall in love with someone, you’ll be a more sane person. Your first love is when you get all of your insanity out. You behave like an insane monster because your mind is freaking out about all these new powerful feelings. By the second time, however, you have an idea of what works and what doesn’t. It’s by no means perfect. The insanity will make a cameo at some point. “Peek a boo. I’m here! Hope you didn’t forget about me!” But you can usually shoo it away after awhile. 

The second time you fall in love with someone, you will hopefully have better sex. Do not quote me on this. The second time you fall in love with someone will still be exciting and you might even talk about moving in together or marriage. It will feel more “adult.” You have no idea what adult love actually is but you think it involves making coffee for each other in the morning and maybe even getting a dog. “This is my dog, Xan. I got him with the second person I fell in love with because that’s what you do! The first person I was in love with would’ve killed a dog.” 

The second time will not be the first time. The first time is an insane magical life gift that you can never reclaim. But that’s okay. The second time is more real anyway. The second time can involve some amazing love.

----

People has been asking me to write, Honestly, I am inspiration-less. But then I stumbled into that article, and somehow it speaks what's on my mind. Loud and clear.

I believe that every kind of loves that touches my life shapes me into the way I am today.
I learned from everyone that has been a dearest to me.
 learned from every kind of love that has touched my life.
It builds me, It strengthened me, It molds me, It creates and transform me.
And until this very second, i still believe that I'm still on that path. The evolution path. The path that I hope will lead me to a better me.

So, there is no regret.
I never regretted every single thing that I've been through.
Because without all those lessons, without all the scars and the painful events.. I'll be the same old me who lives in a pink bubble.
And without all the love that been given to me endlessly by some of angels, I wouldn't know how to love back.


- Posted using BlogPress from my iPad

Rabu, 11 Juli 2012

The Beauty






Sudah beberapa hari ini saya tidak mandi. Tepatnya ini hari kelima.
Dengan korset lengan yang menjadikan sauna seperti tempat yang terasa nikmat, saya masih berperang dengan tumpukan pekerjaan, bahkan masih menyempatkan diri pergi menonton hitung cepat di tempat pemungutan suara sebelah rumah saya kemarin.

Jadi jangan tanyakan soal mood saya, sudah pasti berantakan. Apalagi bertanya soal penampilan saya, sudah pasti tidak memenuhi standard.
Separuh keluarga saya menyebut saya nekat, separuh lagi menyebut saya artifisial. Bagaimana tidak? Operasi bukan barang umum, apalagi cosmetic surgery, lebih langka lagi di keluarga kami.
Kenapa saya melakukan ini, mungkin sulit dipercaya. Apalagi kalau alasannya sesimple apa yang saya utarakan, "i just want to be more beautiful".
Pacar saya berkoar-koar panjang lebar, katanya saya sudah cukup cantik, sudah menggairahkan. Tidak perlulah pisau bedah merajah tubuh saya. Tapi bukan saya, kalau tidak memberontak.

Ibu saya bolak-balik marah-marah, katanya olahraga saja juga bisa. Tapi ini jaman instan, kalau bakmi saja bisa instan, kenapa membuang lemak tidak bisa instan?

Jadi inilah kondisi saya sekarang,
Sakitnya sih tidak seberapa, meski saya sama sekali tidak menyarankan untuk para si cengeng. Tapi repotnya itu yang kenapa-napa. Apalagi untuk si maniak mandi dan keramas seperti saya.
Menyesal? Hm, tidak juga. Mau lagi? Enggak juga :p

Cuma berharap sabtu cepat datang, dan korset sialan ini cepat dibuka.
Cuma kangen setengah mati sama air, dan kangen bercinta dengan bebas.
Until then, jangan harap mood saya bagus, atau pakaian saya bisa enak dipandang.


- Posted using BlogPress from my iPad

Rabu, 04 Juli 2012

The Ending





"Some things don't last forever, but some things do. Like a good song, or a good book, or a good memory you can take out and unfold in your darkest times, pressing down on the corners and peering in close, hoping you still recognize the person you see there.”
― Sarah Dessen, This Lullaby


Karena saya tahu hari ini akan ada.
Jadi disini saya ada, mengantarkan kamu menuju apa yang memang selayaknya kamu dapatkan.
Terima kasih,
Untuk segala sesuatu yang bahkan tidak cukup untuk dijabarkan dengan segala aksara.


- Posted using BlogPress from my iPad

Rabu, 27 Juni 2012

The Choices






"And once the storm is over, you won't remember how you made it through, how you managed to survive. You wont even be sure, in fact, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won't be the same person who walked in."
You know what, yes.. I'm angry.
Because you turned me into a person that i wish i'd never be.
I hope its worth it.

- Posted using BlogPress from my iPad

Minggu, 24 Juni 2012

The Impermanence





Saya sering berkata bahwa pelajaran yang saya beli dengan harga paling mahal itu adalah pelajaran tentang kemelekatan.
Salah satu doktrin yang mendasar dari ajaran Budha adalah anicca, atau impermanence. Segala hal di dunia ini selalu berubah, tidak ada yang permanen dan konstan. Dan apa yang menyebabkan manusia menderita adalah karena kita selalu melekat, dan tidak mau menyadari bahwa segala sesuatu pasti berubah. Segala sesuatu, baik itu kehidupan, jodoh, hal-hal materiil dan imateriil tak pernah kekal.

Oleh sebab itu saya selalu menekankan kepada diri saya untuk belajar tidak melekat. Kepada apapun, dan mudah-mudahan kepada siapapun. Dan yang tersulit tentunya adalah belajar untuk mencintai dengan pemahaman bahwa setiap orang yang kamu cintai bisa pergi kapan saja. Bahwa setiap orang yang ada di dunia kamu saat ini bisa saja tidak lagi bersinggungan dengan harimu besok.

Sometimes i wonder, how can you love someone wholeheartedly if there is no guarantee that the person will be there for you at least for a very long time?
How can you build a plan with them knowing that the person might not stay long enough for the plan to come true?

Mungkin pemahaman seperti itulah yang membuat saya skeptic dalam memandang segalanya. I no longer believe in fairy tale and they live forever ever after. Saya lebih percaya apa yang dinamakan "kekinian". Saat ini. Now.
Mungkin dengan memandang segala sesuatu dari sisi kekinian, saya lebih bisa berdamai dengan semuanya jika suatu saat nanti things are not going according to my plan.

Di sisi lain, mungkin triknya adalah menemukan orang yang cukup pantas untuk diresikokan. I know there is no guarantee when it comes to relationship, but i believe that we can minimize the risk and not bet againsts the world. Karena kalau ada yang saya pelajari, its the house who wins most of the times.



- Posted using BlogPress from my iPad



- Posted using BlogPress from my iPad