Sabtu, 18 September 2010

The Friendship



Semua orang yang kenal saya dengan baik tahu dengan pasti bahwa saya tidak punya "gift" untuk berteman. Selain untuk urusan pekerjaan, saya bahkan tidak tahu bagaimana caranya mendekati orang asing. Dunia yang nyaman buat saya ya dunia kecil yang saya bangun. Tak banyak yang bisa masuk, apalagi bersama-sama duduk di "sofa".

Dalam hal menentukan apakah seseorang dapat masuk ke dalam dunia saya, saya semata-mata mengandalkan perasaan. I believe in intuition, I believe in feelings. Dan feeling saya, jarang meleset.

Saya percaya penilaian pada kesan pertama. Tidak harus lewat perjumpaan, bisa saja hanya lewat untaian kata. Tapi buat saya, chemistry itu penting. Sangat penting.
Saya bisa saja jatuh cinta pada seseorang yang rupanya belum berbentuk, saya bisa saja antipati pada seseorang karena saya tidak suka tingkahnya. Semuanya subjektif. Tapi saya rasa itu hak saya.

Hanya perlu sesaat, untuk memilah apakah orang tersebut akan berlabel kenalan, kawan, karib, atau kekasih. Sekali lagi, saya percaya chemistry. Saya percaya intuisi.

Mungkin kalian bertanya-tanya, kalau saya merasa saya hampir tidak pernah salah memilih, mengapa saya putus cinta? Bukankah kisah cinta yang tidak berhasil itu berarti pilihan yang salah?
Sebenarnya tidak juga. Pada saat saya memasukan seseorang ke dalam suatu kotak yang saya labeli "kekasih", saya tidak salah. Karena setiap kekasih saya turns out to be a good lover, a magnificent one perhaps.
Dan kalau pada akhirnya hubungan kami tidak berhasilpun itu bukan berarti bahwa lover's chemistry itu tidak pernah ada.
Tidak semua love stories itu akan berlangsung panjang, atau bahkan selamanya. Some love stories destined to be a short one, but it is still a love stories.

Tapi hari ini saya bukan sedang ingin bicara soal kekasih, atau soal patah hati. Saya ingin bicara tentang rasa lain, tentang persahabatan.
Like i said before, i dont have much friends. Mungkin itu sebabnya saya tidak mau membuat "buku wajah" a.k.a facebook.
Seseorang mengkritik saya kemarin. Dia bilang saya sombong. Saya tidak pernah mau menghadiri reuni teman-teman sekolah saya. Buat saya reuni mengenang masa lalu itu tidak penting. Orang-orang yang berarti buat saya, teman-teman dan sahabat yang penting untuk saya, jaraknya cuma sejangkauan telepon. Saya tahu nomor mereka, saya bisa menemui kapanpun mereka sempat. Sisanya tidak penting.

But lately I've been making few more friends. Saya memperluas dunia saya, menambah beberapa buah sofa dan mempersilahkan beberapa nama baru hadir dalam hari-hari saya.
Saya bahkan tidak tahu apakah ini adalah cara yang tepat untuk membuat saya utuh kembali. Tapi yang saya tahu beberapa dari mereka berhasil membuat saya merasa lebih baik. Beberapa dari mereka membuat saya merasa bahwa hidup terus berjalan, dan saya masih punya begitu banyak hal di masa depan.
Tapi yang pasti setiap dari mereka, dengan keunikan masing-masing membuat saya belajar mengenal diri saya sendiri.

Hari inipun saya bertemu dengan satu orang baru lagi. Seorang cakap, di usia hampir 40 tahun. Dan lagi-lagi sebuah pembelajaran. Kali ini topiknya tentang mengenali diri sendiri, tentang tahu apa yang kita mau, apa yang kita bisa, dan kelemahan kita.
Topiknya tentang passion. Passion of making something better, passion of contributing something to society. Passion of being alive, no matter how bumpy is the road.

Ternyata mungkin benar, at some point in your life, you should start reaching out. Belajar dari sekitar kita.
And at the end of the day, being someone better.

(As we grow up, we don’t lose friends. We just learn who our real ones are.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar