Sabtu, 04 September 2010

The Sunset




Marilah kemari. Duduklah sekejap di sampingku. Biar kuceritakan beberapa hal yang tak pernah tidak mengingatkanku padamu.
Satu warna dari sekian ribu pilihan warna. Jingga, itu warnamu. Seperti warna senja yang merekah malu-malu. Seperti warna terakhir dari pelangi. Yang terjauh, yang terindah.

Berjalanlah disisiku, sebentar saja. Biar kutentukan bentukmu, sebelum kusimpan kau rapat-rapat dalam rongga dada. Agar kamu abadi, karena kekekalan ada utuhmu, selamanya. Sehingga ketika satu persatu nama menguap dimakan waktu, atau ketika kenangan menguap menjadi mimpi sebelum lamat-lamat dimakan ngengat. Kamu selalu ada, disana.

Lalu saat asap mulai meninggi, dan kisah kita hanya didengungkan diantara nisan-nisan. Apa yang akan kamu ingat tentangku? Dimana cinta akan ada?
Karena sesungguhnya aku tidak lagi menggantungkan cinta di ujung harap. Karena cinta tak lagi boleh dibicarakan, karena hati sudah begitu pekat oleh lara tak berujung.
Karena semuanya tak lagi berarti, karena manusia saling berpaling.

Karena mungkin aku akan menghilang, mengikuti jejak cinta yang sudah menguap.
Karena hidup adalah pergantian, dan percaya itu cuma sebuah kata yang didengungkan para petenung.
Namun selalu ada kamu dalam bentuk yang lebih sederhana.
Seperti senja yang terabadikan rapih di sepucuk kartu pos.

Selamat tinggal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar